Cenil, Lupis dan Klepon Sekartaji


Cenil, lupis, dan klepon adalah jajanan pasar tradisional Jawa yang kaya sejarah, seringkali muncul bersamaan, berasal dari masa sulit pangan (cenil sebagai pengganti beras) atau era kolonial Belanda (klepon diperkenalkan ke Eropa), dengan makna filosofis yang mendalam tentang kebersamaan, kesabaran, dan perjuangan hidup yang berujung manis. 

Sejarah dan Asal Usul :

  • Cenil:
  • Awalnya makanan pokok pengganti beras saat paceklik, berasal dari kreativitas masyarakat Jawa.
  • Sudah ada sejak zaman Mataram Kuno (abad ke-8 M) dan tercatat dalam Serat Centini (1814).
  • Nama "cenil" (atau "centil") berarti "santai" atau merujuk warna-warninya yang menarik, melambangkan persaudaraan erat.
  • Lupis:
  • Juga ada sejak zaman penjajahan Belanda, populer di banyak daerah Jawa, Jakarta, dan Padang, sering dijual bersama cenil.
  • "Lupis" berarti "terikat," melambangkan persatuan, bahkan digunakan Bung Karno untuk pesan persatuan di Pekalongan.
  • Klepon:
  • Diperkenalkan ke Belanda tahun 1950-an oleh imigran Indonesia, dikenal di restoran Tionghoa-Belanda.
  • Di Indonesia, merupakan jajanan pasar legendaris yang sering disajikan bersama lupis dan cenil.
  • Secara etimologi, "klepon" berarti "anak kempes" atau "kempes," mengacu pada bentuk atau sensasi isian gula merah yang lumer. 

Makna dan Filosofi

  • Cenil: Tekstur kenyal dan lengket melambangkan eratnya tali persaudaraan.
  • Klepon: Melambangkan bahwa kesulitan (tektur awal) pasti berujung manis (isian gula merah), dikenal sebagai "kanti lelaku pesti ono" (bila prihatin, pasti ada jalan keluar).
  • Lupis: Dikenal sebagai simbol persatuan, terutama di Pekalongan.

Penyajian Khas

  • Cenil: Di Pacitan disajikan dengan siraman kuah gula aren, bukan gula halus.
  • Lupis: Di Padang berbentuk segitiga, disajikan dengan ketupat.
  • Klepon: Berisi gula merah cair, dibalut kelapa parut, dikenal dengan warna hijau pandan.